Gereja Pentakosta-pentakosta di Indonesia bermula pada tahun 1921 dengan kedatangan misionaris Amerika, Rev. Cornelius Groesbeek dan Rev. Richard Van Klaveren, yang membawa gerakan Pentakosta dari Amerika Serikat ke Hindia Belanda (Sekarang Indonesia).
Gerakan ini awalnya terdaftar secara resmi pada tahun 1924 didaftarkan sebagai De Pinkster Gemeente in Nederlandsch-Indie dan kemudian mengalami beberapa perpecahan internal, melahirkan banyak denominasi Pentakosta seperti GPdI, GPDI, GBI, GPPS dan lainnya.
Gereja Pentakosta Di Indonesia disingkat GPDI adalah lanjutan dari DEPINSTERKERK IN NEDERLANDSH INDIE, dengan badan hukum No. 33 tertanggal 4 Juni 1937 Stanblat 368, yang terdiri dari semua Sidang-sidang jemaat. Gereja Pentakosta Di Indonesia yang berkantor pusat di Jalan Sangnawaluh no. 35 Pematang Siantar (dahulu Jalan Asahan), yang terdaftar kembali di kantor Dirjend Bimas Kristen Protestan di Jakarta, Tanggal 12 Juli 1968 Nomor : Dd/P/7/025/271/1968 dan Keputusan Dirjend Bimas Kristen Protestan Depag RI Nomor F/98/1990/Tanggal 25 April 1990.
Sekolah Alkitab Pentakosta (SAP Pematang Siantar)
Tahun 1958 Rev. Howard Marthin Gering dan Isteri membuka Sekolah Alkitab Pentakosta (SAP) di Jalan Asahan no.35 Pematang Siantar. SAP banyak melahirkan Hamba-hamba Tuhan, lewat SAP ini gerakan penginjilan sangat Masif, KKR dimana-mana dengan Team Trompet, Pernah punya Kapal Di Samosir, Punya Kebon di Dairi bahkan ada nama kampung di Dairi “Desa si Giring”. Gerakan Pentakosta yang dipimpim HM Hering banyak menyebut “Pentakosta Si Giring”. SAP ini yang cikal bakal Sekolah Alkitab Pentakosta ( SAP GPDI) dan Sekaligus Kantor Pusat Gereja Pentakosta Di Indonesia (GPDI).
Perpisahan Pantekosta dengan Pentakosta.
Perlu kita ketahui bahwa dahulu AD/ART adalah Gereja Pantekosta/Pentakosta Di Indonesia.
Sebutan “Pantekosta” lebih akrab di Pulau Jawa sementara sebutan “Pentakosta” lebih akrab di Sumatera Utara.
Penyebab perpisahan Pantekosta dan Pentakosta ada sedikitnya dua hal:
Rev. Howard Marthin Gering atau yang lebih akrab di sebut “Giring” Sebagai Pendiri Sekolah Alkitab (SAP) harus pulang ke Amerika, waktu itu ada aturan dari pemerintah yang mengharuskan warga negara asing harus meninggalkan Indonesia. Pusat Jakarta meminta kepada H.M Gering supaya Sekolah Alkitab Pentakosta(SAP Pematangsiantar) diserahkan untuk dikelola oleh Pusat Jakarta, tetapi H.M Gering tidak bersedia karena H.M Gering berkeinginan memberikan Sekolah Alkitab kepada suku Batak. Hal ini mendapat respon kurang baik dari Pusat Jakarta.
Pada Kongres besar, 27-30 September 1965 di Yokyakarta, kemudian Konferensi Bandung, menghasilkan AD/ART yang baru dimana sebutan “Pentakosta” di hapus.
Hamba-hamba Tuhan dari Sumatera Utara menolak sebutan “Pantekosta”.
Dua hal tersebut paling tidak menjadi alasan hamba-hamba Tuhan dari Sumatera Utara mengadakan musyawarah (Mubes) Tgl. 22-23 Juli 1966 di Kisaran dan Mendeklarasikan bahwa Gereja Pentakosta Di Indonesia (GPDI) memisahkan dari Gereja Pantekosta Di Indonesia Pusat Jakarta.
Berikut nama-nama Deklarator GPDI:
Pdt. Ev. Karel Sianturi
Pdt. Parluhutan Sianipar
Pdt. Kasiun Sinaga
Pdt. M. Nahal Tambunan
Pdt. Saur M. Panggabean
Pdt. Khistian Siburian
Pdt. Sahdan K. Nababan
Pdt. SB. Sigalingging
Pdt. K. Sitompul
Pdt. M. Sianturi
Pdt. K. Simatupang
Dan di dukung sejumlah Pendeta dan Parhalado dan Jemaat. Pertumbuhan GPDI sangat baik hingga pada tahun 1973.
Mubes Pertama setelah berdiri sebagai Gereja Pentakosta Di Indonesia (GPDI) menghasilkan Badan Pengurus Umum (BPU) Pertama Periode Tahun. 1966 – 1970
Ketua : Pdt. Karel Sianturi
Ketua 1 : Pdt. Parluhutan Sianipar
Ketua 2 : Pdt. MN. Tambunan
Ketua 3 : Pdt. Kasiun Sinaga
Sekjend. : Pdt. CHR. Siburian
Bendahara : Pdt. SM. Panggabean
Komisaris 1 : Pdt. SK. Nababan
Komisaris 2 : Pdt. SB. Sigalingging
Komisaris 3 : Pdt. K. Sitompul
Komisaris 4 : Pdt. K. Simatupang
Komisaris 5 : Pdt. M. Sianturi
Mubes Tahun 1970 melahirkan pengurus baru:
Ketua : Pdt. Karel Sianturi
Wakil Ketua : Pdt. Parluhutan Sianipar
Sekjend : Drs. Habinsaran Sianturi
Wakil Sekjend : Pdt. CHR. Siburian
Bendahara : Pdt. SM. Panggabean
Komisaris 1 : Pdt. Kasiun Sinaga
Komisaris 2 : Pdt. MN. Tambunan
Staf Ahli
– dr. Amiluddin Lubis
– Pdt. SK. Nababan
– Pdt. K. Simatupang
Tanggal 18 Juli 1974 Badan Pengurus Pusat (BPU) bersama pengurus wilayah GPDI mengadakan musyawarah kerja (MUKER), salah satu agendanya adalah mempertanyakan “Kejelasan status komplek kantor pusat” kepada Pdt. Karel Sianturi sebagai Ketua dan sebagai penerima surat dari Rev.H.M Gering. Pada saat itu Pdt. Karel Sianturi mengatakan bahwa “Kantor pusat GPDI adalah milik GPDI” dan tidak ada niatan untuk menjadikannya milik pribadi.
Peserta rapat beristirahat sembari mempersiapkan dokumen-dokumen untuk ditandatangani.
Setelah kembali melanjutkan Musyawarah kerja situasi menjadi berubah dimana Pdt. Karel Sianturi tidak bersedia menandatangani dokumen-dokumen yang sudah disepakati. Diduga pada waktu istirahat Drs.Habinsaran Sianturi (Anak Pdt. Karel Sianturi) mempengaruhi bapaknya supaya membatalkan keputusan yang sudah disepakati sehingga musyawarah menjadi keos dan terbelah menjadi dua pihak, yaitu pihak Pdt. Karel Sianturi dan pihak yg kontra. Pdt. Karel Sianturi memecat 4 orang pengurus, al:
Pdt. Parluhutan Sianipar selaku wakil ketua
Pdt. CHR. Siburian selaku wakil sekjend
Pdt. SM. Panggabean sebagai Bendahara
Pdt. MN. Tambunan sebagai Komisaris 2
Kemudian kedua belah pihak kembali mencapai kesepakatan untuk mengadakan Mubes Tgl. 5-6 Nopember 1975 dan menarik kembali surat-surat pemecatan. Pada Mubes tersebut disepakati untuk mengadakan Rapat pertama Tgl. 26 Januari 1976. Tetapi pihak Pdt. Karel Sianturi tidak memenuhi kesepakatan itu dan akhirnya tentang Kantor Pusat di ajukan ke Pangadilan Negeri Pematangsiantar yang diwakili Pdt. Parluhutan Sianipar dan Pdt. Kasiun Sinaga.
Selanjutnya Pdt. Karel Sianturi mengadakan musyawarah istimewa (diduga tidak ada secara fisik) membentuk Badan Pengurus Umum (BPU) dengan susunan sebagai berikut;
Ketua : Pdt. Karel Sianturi
Wakil Ketua : Pdt. K. Sitompul (Tarutung)
Sekjen : Drs. Habinsaran Sianturi (Medan)
Wakil sekjend : Pdt. HB. Panjaitan (Medan)
Bendahara : Pdt. St. B. Hutahayan (Siantar)
Komisaris 1 : Pdt. B. Sihombing (Sidikalang)
Komisaris 2 : Pdt. S.B. Sigalingging (Sidikalang)
Sementara Pihak yang kontra yaitu pihak Pdt. Parluhutan Sianipar sudah diluar kantor pusat dan meminta kesediaan Pdt. SM. Panggabean supaya rumahnya di Lorong 29 BDB. Siantar menjadi kantor pusat GPDI sementara (selama 7 tahun).
Tidak kunjung ada kesepakatan dengan pihak Pdt. Karel Sianturi maka persoalan sampai ke pengadilan menjadi perkara GPDI berhadapan dengan Pdt. Karel Sianturi. GPDI diwakili Pdt. Parluhutan Sianipar dan Pdt. Kasiun Sinaga.
Persoalan tidak hanya terjadi di kantor pusat tetapi didaerah-daerah pun terjadi pergolakan sesama pejabat gereja dan terjadi perpecahan jemaat di beberapa daerah.
Mubes Luar biasa.
Tgl. 29-30 Nopember 1977 GPDI mengadakan Mubes luar biasa di GOR Pematangsiantar. Mubes ini melahirkan keputusan memberhentikan Pdt. Karel Sianturi sebagai ketua BPU dan sebagai Pdt. GPDI. Mubes juga melahirkan pengurus baru periode 1977-1980. Adapun pengurus BPU al;
Ketua : Pdt. Parluhutan Sianipar
Wakil Ketua : Pdt. MN. Tambunan
Sekjend : Pdt. Kasiun Sinaga
Wakil Sekjen : Pdt. CHR Siburian
Bendahara : Pdt. SM. Panggabean
Komisaris 1 : Pdt. F. Siahaan
Komisaris 2 : Pdt. SK. Nababan.
Urusan pengadilan terus berlanjut, Pengadilan Negeri Pematangsiantar lanjut ke Pengadilan Tinggi Medan, lanjut Kasasi ke Mahkaman Agung Jakarta yang semuanya di menangkan GPDI. Kemudian eksekusi tgl. 11 September 1980 dan GPDI mengadakan syukuran Tgl. 26 Oktober 1980. Sejak itu Kantor Pusat dipindahkan dari Lorong BDB ke Jl. Asahan no. 35 (Kantor Pusat Sekarang).
Periode 1980 – 1985 Pengurus BPU
Ketua : Pdt. Parluhutan Sianipar
Wakil Ketua : Pdt. MN. Tambunan
Sekjend : Pdt. Kasin Sinaga
Wakil Sekjen : Pdt. SM. Panggabean
Bendahara : Pdt. SM. Panggabean
Komisaris 1 : Pdt. SK. Nababan
Komisaris 2 : Pdt. F.Sihaan.
Periode 1985 – 1990
Ketua : Pdt. Parluhutan Sianipar
Wakil Ketua : Pdt. Kasiun Sinaga
Sekjend : Pdt. MN. Tambunan
Wakil Sekjen : Pdt. SM. Panggabean
Bendahara : Pdt. Arden Nainggolan
Komisaris 1 : Pdt. HB. Panjaitan
Komisaris 2 : Pdt. SK. Nababan
Mubes tahun 1990
Terpilih Badan Pengurus Umum yang baru,
Periode 1990 – 1995
Ketua : Pdt. Arden Nainggolan
Wakil Ketua : Pdt. Barita Oloan Hasugian, S.Th
Sekjend : Pdt. Saur M. Panggabean, S.Th
Wakil Sekjend : Pdt. H. Bangun Panjaitan, S.Th
Bendahara : Pdt. Paul Hasugian
Komisaris 1 : Pdt. OD. Sihotang
Komisaris 2 : Pdt. Hairul Gultom
Periode 1995 – 2000
Ketua : Pdt. Arden Nainggolan
Wakil Ketua : Pdt. OD. Hasugian
Sekjend : Pdt. H. Bangun Panjaitan, S.Th
Wakil Sekjend : Pdt. Hairul Gultom, S.Th
Bendahara : Pdt. SM. Paanggabean
Komisaris 1 : Pdt. S.K Nababan
Komisaris 2 : Pdt. R. Pasaribu
Periode 2000 – 2005:
Bishop : Pdt. BO. Hasugian, S.Th
Sekjend : Pdt. SM. Tampubolon.
Bendahara : Pdt. B. Tambunan
Catatan: Setelah 2 tahun menjabat Pdt SM. Tampulon mengundurkan diri sebagai Sekjen dan di Gantikan oleh Pdt. SM. Panggabean.
Majelis Pusat:
Ketua : Pdt. OD. Sihotang
Sekjend : Pdt. H. Gultom
Periode 2005 – 2010
Ketua : Pdt. Mangantar Sinaga
Wakil Ketua : Pdt. B. Tambunan
Sekjend : Pdt. SM. Tampubolon
Wakil Sekjen : Pdt. JR. Malau
Bendahara : Pdt. A. Silalahi
Komisaris 1 ; Pdt. R. Nababan
Komisaris 2 : Pdt. B. Simangunsong
Periode 2010 – 2015
Ketua : Pdt. SM. Tampubolon
Wakil Katua : Pdt. Pdt. H. Gultom
Sekjend : Pdt. R. Nababan
Wakil Sekjen : Pdt. Matias Manurung
Bendahara : Pdt. MJ. Sinaga
Komisaris 1 : Pdt. Fajar Sinaga
Komisaris 2 : Pdt. Yosua Simbolon (Kalimantan)
Periode 2015 – 2020
Ketua : Pdt. SM. Tampubolon
Wakil Ketua : Pdt. H. Gultom
Sekjend : Pdt. R. Nababan
Bendahara : Pdt. SM. Manurung
Komisaris 1 : Pdt. Y. Oppusungguh
Komisaris 2 : Pdt. Sangap Saragih
Catatan:
– Menjelang akhir jabatan Sekjend ( Pdt. R Nababan) dipanggil Tuhan dan di rangkap jabatan dengan Pdt. H. Gultom.
– Enam bulan terahir Ketua (Pdt. SM.Tampubolon) di panggil Tuhan kemudian di teruskan oleh wakil Ketua (Pdt. H. Gultom) sebagai Ketua.
Periode 2020 – 2025
Ketua : Pdt. SM. Manurung, S.Th
Sekjend : Pdt. Kartono Pasaribu, M.Th
Wakil ketua 1 : Pdt. Matias Manurung, S.Th
Wakil ketua 2 : Pdt. S.Saragih, S.Th / Pdt. Yehezkiel A.Op Sunguh, M.Th
Wakil Sekjend 1: Pdt. Ir. Pikson Sihotang,M.Th
Wakil Sekjend 2: Pdt. Morris Pardosi, S.Th
Bendahara : Pdt. Gusar Siringoringo, S.Th.,M.Pd
Periode 2025-2030 Badan Pengurus Umum (BPU) Berubah menjadi Badan Pengurus Pusat (BPP).
Ketua BPP : Pdt. SM. Manurung, M.Th
Sekjend : Pdt. K. Pasaribu, M.Th
Bendum : Pdt. Gusar Siringoringo, S.Th.,M.Pd
Wakil Ketua 1 : Pdt. Yehezkiel A. Op. Sungguh, M.Min.,M.Th
Wakil Ketua 2 : Pdt. Dr. Harapan Nainggolan, S.Th.,M.PdK
Wakil Sekjend 1 : Pdt. Ir. Pikson Sihotang, M.Th
Wakil Sekjend 2 : Pdt. Ronaldo Arsianus Nainggolan, S.Th
Badan Pertimbangan Organisasi Periode 2025 – 2030 :
Ketua BPO : Pdt. Dr. JR. Malau, M.Th
Sekretaris : Pdt. P. Sitompul, M.Th
Anggota 1 : Pdt. DR. Marihot Saragi MA
Anggota 2 : Pdt. Morris Pardosi, S.Th
Anggota 3 : Pdt. Hotua Pasaribu
Ketua-ketua Sinode GPDI dari Periode ke periode.
Periode 1966 – 1970 : Pdt. Karel Sianturi
Periode 1970 – 1974 : Pdt. Karel Sianturi
III. Periode 1974 – 1977 : Pdt. Karel Sianturi
Periode 1977 – 1980 : Pdt. Parluhutan Sianipar
Periode 1980 – 1985 : Pdt. Parluhutan Sianipar
Periode 1985 – 1990 : Pdt. Parluhutan Sianipar
VII. Periode 1990 – 1995 : Pdt. Arden Nainggolan
VIII. Periode 1995 – 2000 : Pdt. Arden Nainggolan
Periode 2000 – 2005 : Pdt. B.O. Hasugian
Periode 2005 – 2010 : Pdt. M. Sinaga
Periode 2010 – 2015 : Pdt. S.M. Tampubolon
XII. Periode 2015 – 2020 : Pdt. S.M. Tampubolon
(Catatan: 6 Bulan Terakhir September 2019 – Februari 2020, Kepemimpinan dilanjutkan Bpk Pdt. Hairul Gultom, S.Th., S.Pdk, karena Bpk Pdt. S.M Tampubolon di Panggil Tuhan)
XIII. Periode 2020 – 2025 : Pdt. S.M. Manurung
XIV. Periode 2025 – 2030 : Pdt. S.M. Manurung
Sumber :
– Sejarah Umum Gereja Pentakosta
– Catatan /Bagan Pdt. Karel Sianturi (Ketua Pertama GPDI)
– Pdt. H. Gultom, S.Th, S.Pdk
– Pdt. P. Hasugian
Disusun Oleh : Departemen Literatur